Tommy A. Siahaan – Capture the Wonders

Mengabadikan momentum berharga dan hal-hal indah di kehidupan dalam bingkai fotografi adalah hal yang menjadi keunggulannya. Kariernya sebagai fotografer yang banyak diisi dengan project fotografi, coaching serta peran sertanya sebagai ambassador dari Leica, diawali dengan hobi masa kecil yang terus digelutinya hingga menyelesaikan pendidikannya di Melbourne, Australia dan terus sampai saat ini. Mengaku sedang meluangkan waktu untuk menulis 2 film yang merepresentasikan impiannya, pria kelahiran Jakarta, 17 September 1974 ini tetap menjadikan ketiga buah hati yang dijulukinya, Angie the teenager, Rene the toddler, and Tesla the baby sebagai prioritas dalam keadaan apapun, bahkan pernah melibatkan sang anak dalam salah satu kegiatan sosialnya bersama Yayasan Anyo Indonesia. Passionate, experimental, creative yet humble surely make things easier for Tommy A. Siahaan to be a reputable professional in his magical works of photography ever since he first fell in love with it by the age of twelve.

FOTO WILLIE WILLIAM. MAKEUP ARTIST RANGGI PRATIWI. HAIRSTYLIST EVA PICAL. LOKASI KERATON AT THE PLAZA.

 

Bagaimana awal mula Anda menekuni dunia karier Anda sebagai fotografer? 

Bermula dari hobi saat saya masih kelas 6 SD. Teman Papa, seorang fotografer sering ke rumah, saya dan abang saya sempat belajar dari beliau. Saat saya pindah ke US dan Australia untuk SMP, SMA dan kuliah, fotografi menjadi hobi saya. Namun atas dorongan orangtua kuliah saya S1 dan S2 di bidang Commerce and International Business. Sementara saya mulai menjadikan fotografi sebagai profesi di tahun 2004 saat pulang ke Indonesia.

 

Seperti apa style photography Anda?

Style seorang fotografer memang eventually pasti akan terbentuk, karena fotografi itu jujur, meng-capture dengan selera sang fotografer tersebut. Walau saya tidak ingin di label mengenai saya tipe fotografer apa, tapi style fotografi saya seems to be natural, realist, rugged, cinematic, dramatic, sensual, and intimate.

 

Apa hal yang paling Anda sukai dan hal yang paling challenging dalam fotografi?

Hal yang paling saya sukai dalam fotografi adalah meng-capture moments dan mengenali subjectnya melalui kamera. Establishing the connection during the photoshoot, and also building trust. It’s wonderful. Yang paling challenging adalah saat keadaan badan lelah, tetap harus push creativity.

 

Apa saja hal-hal yang bisa menginspirasi Anda saat melakukan aktivitas Anda?

Kindness and beauty yang kita bisa lihat di keseharian are inspiring. Musik juga sangat penting.

 

Siapa role model Anda?

Papa dan Mama saya. Nasehat dan insights mereka saat saya bertumbuh dewasa sangat membantu dalam karier dan juga dalam personal growth. Keterbukaan dan luasnya pandangan Papa saya dan kebaikan dan beautiful nature Mama saya adalah pengaruh dan bekal penting. Saya tidak akan pernah lupakan.

 

Bisa diceritakan pengalaman Anda bersama Leica?

Tahun 2016 saya diundang untuk ikut pameran fotografi dengan Leica Indonesia. Saat itu saya dikenalkan dengan Managing Director of Leica Asia Pacific Mr. Sunil Kaul. Setelah itu, after about a month of discussions, mereka resmi jadikan saya sebagai Leica Ambassador dan juga Leica Akademie Instructor. It is such a great honour, karena Leica adalah high-end brand kamera yang sangat prestigious, dan juga mempunyai great history. 

 

Apa hal apa yang paling menarik perhatian Anda dalam dunia teknologi? 

How it can connect people. The Internet, chats, video calls, adalah hal-hal yang luar biasa, bisa menghubungkan connect people from around the world or just next door. Hal-hal yang sangat cepat dicapai dalam 20 tahun ini. The Internet is like the brain, dimana manusia adalah nervesnya.

 

Apa yang dilakukan pada waktu senggang to recharge your energy?

Saya bermeditasi. Meditasi sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan di tempat yang sunyi dan sepi, tapi lama-kelamaan kita bahkan bisa masuk ke dalam meditative state di keramaian. Kuncinya ada di pernafasan, lepaskan fokus dan lepaskan ikatan terhadap apapun di saat itu, especially emotion. Dimulai dengan being grateful dan being in that exact present moment. 5-10 menit saja juga cukup saat sibuk. Selain meditasi saya juga suka travelling untuk me-recharge energy.

 

 


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − fourteen =