Audaxionist

SEKUMPULAN ORANG PENGGILA SEPEDA INI TERDIRI DARI BERBAGAI LATAR BELAKANG PROFESI. TUJUANNYA TAK HANYA BERSEPEDA UNTUK MEMBANGUN JIWA DAN RAGA YANG SEHAT BAGI ANGGOTANYA, JUGA JAUH BERKEMBANG MENJADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP (LIFESTYLE), TANTANGAN (CHALLENGE), REKREASI
(TOURING), DAN KETAHANAN FISIK (ENDURANCE). BERIKUT PAPARAN DARI GITA GILANG KENCANA DAN DIAN IMIRSYAH TENTANG KOMUNITAS INI.

Bagaimana latar belakang berdirinya komunitas ini?
Audaxionists dibentuk pada awal tahun 2014 ini. Belum bisa dikatakan sebagai sebuah komunitas karena jumlah anggota kami masih belum banyak, jadi lebih tepat dinamai kumpulan pesepeda yang memiliki hobi bersepeda jarak jauh. Alasan berdirinya diawali dengan keinginan beberapa rekan lulusan Audax di Indonesia dan untuk meneruskan keikutsertaan kegiatan Audax yang diadakan di luar negeri yang tentunya memiliki tantangan dan pengalaman tersendiri.

Bisa ceritakan apakah itu Audax atau Randonneuring?
Randonneuring atau Audax adalah olahraga bersepeda jarak jauh yang sifatnya gabungan antara touring dan olahraga. Dalam Randonneuring, peserta diminta menyelesaikan jarak tertentu dalam waktu tertentu seperti yang sudah menjadi ketetapan ACP (Audax Club Parisien) dan berlaku di mana pun. Di sini berlaku “hukum” Allure Libre di mana pesepeda dibebaskan untuk menentukan kecepatan bersepedanya dan diwajibkan mempersiapkan segala perlengkapan pendukung, seperti tools, ban dalam, hingga pakaian ganti. Bantuan seperti back-up car dan lainnya dilarang. Bantuan hanya boleh dilakukan di check point.

Audax pertama kali dilakukan oleh 12 orang pesepeda asal Italia yang bersepeda sejauh 230 km dari Roma ke Naples di tahun 1897. Saat berhasil menempuh jarak yang ditetapkan, mereka menjuluki diri sebagai Audax (Audacious) yang berarti berani. Kegiatannya secara resmi dilakukan tahun 1904 ketika jurnalis Prancis Henry Desgrange membuat aturan tentang bersepeda gaya Audax dan menamakannya Audax untuk menghormati ke-12 pesepeda asal Italia selaku perintis kegiatan ini. Bagi mereka yang berhasil melewati garis akhir mendapat penghargaan berupa brevet yang dinamakan Brevet d’Audax.

Seiring berjalannya waktu para finisher yang kurang puas dengan gaya bersepeda secara berkelompok ini mendirikan ACP (Audax Club Parisien) yang menetapkan gaya bersepeda Allure Libre (ride on your own pace) dan pada tahun 1920 mengambil alih acara Audax dari Desgrange. Gaya bersepeda yang mereka lakukan ini dinamakan Randonneuring dan para finisher memeroleh sertifikat Brevets des Randonneurs.

Audax dikenal di beberapa negara Eropa seperti Belanda, Prancis, Belgia, Jerman, serta negara-negara Amerika Latin. Sedangkan Randonneuring dengan Alurre Libre lebih diminati mereka yang mencari tantangan dan banyak dikenal di Amerika, Inggris, Australia, dan belakangan di Asia, seperti Jepang, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia.

Randonneuring masuk ke Indonesia diawali dengan acara West Sumatra Audax 2×200 km yang
diselenggarakan di Padang mengambil rute Padang – Bukittinggi lewat danau Maninjau, Kelok 44, Bukittinggi, dan kembali ke Padang lewat Pagaruyung, Padang Panjang. Acara berikutnya adalah Borobudur Audax 200 dan 300 km dengan rute Yogyakarta dan Jawa Tengah di Mei 2013, dan terakhir Bali Audax Randonneur 200 dan 400 km bulan September 2013 lalu.

Acara Audax yang terpenting buat para randenours adalah Audax PBP (Paris – Brest – Paris) sejauh 1200 km tahun 2015 besok. Audax PBP ini pertama kali diadakan September 1891 yang jelas jauh lebih tua daripada Tour de France.

Siapa sajakah Indonesia Randenours?

Kami adalah para penggemar sepeda jarak jauh dan beberapa jenis olahraga lain, seperti maraton, triatlon, dan renang dari beragam profesi, strata ekonomi, umur, dan jenis kelamin yang telah mengikuti kegiatan Audax Randenour Indonesia (ARI) maupun sepeda jarak jauh lainnya di Indonesia, dan berbagai kegiatan olahraga di luar negeri. Pesepeda yang tergabung dalam Audaxionist Indonesia adalah pesepeda yang berasal dari beberapa klub sepeda di Jakarta.

Kegiatan apa saja yang telah dilakukan?
Pengalaman pertama kami berpartisipasi di Audax Singapore 2014 yang berjarak 308 km bulan Maret lalu. Masing-masing peserta diberikan kartu yang harus diisi dengan informasi pribadi dan nomor identifikasi komunitas sepeda tempat bergabung. Peserta harus dapat menyelesaikan jarak tersebut dalam 21 jam dengan mengikuti rute yang sudah ditentukan oleh panitia penyelenggara dengan beberapa check-point. Di setiap check- point, peserta harus meminta stempel/cap dari tempat usaha, seperti restoran cepat saji atau pom bensin sebagai bukti telah melalui titik tersebut.

Rute yang dilalui adalah Singapura bagian tengah menuju perbatasan Malaysia. Setelah melalui imigrasi Malaysia, kami mengelilingi Provinsi Johor dari selatan, barat, utara, dan timur, kemudian kembali ke Singapura melalui perbatasan Woodland.


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*