Cosmas Gozali – A New Foundation

Berawal dari minat yang muncul sejak dini, bagi Arch. Dipl. Ing., Cosmas Damianus Gozali, IAI, arsitektur lebih dari sekadar karier, profesi, atau hobi. Arsitektur baginya adalah ekspresi rasa cinta dan komitmen untuk membangun Indonesia yang lebih baik lewat karya-karya cemerlang dan dedikasinya yang tanpa henti pada bidang yang ia geluti tersebut. Foto: Thomas Sito. Makeup Artist: Richard Theo. Lokasi: The Gunawarman.

 

Boleh diceritakan kesibukan Anda belakangan ini?

Saya masih sibuk mendesain dan menjadi principal architecture di Atelier Cosmas Gozali atau yang dikenal juga sebagai PT. Arya Cipta Graha. Fokusnya masih mengurusi klien dan banyak proyek residential, hotel, dan sebagainya. Saya baru saja kembali dari Calcutta, India karena ada yang mau membangun hotel di sana. Selain itu saya juga aktif di Yayasan Mitra Museum Jakarta yang dibentuk untuk membantu museum-museum yang ada di Jakarta. Sebentar lagi kita akan membuat pameran dan penggalangan dana yang hasilnya dipakai untuk memugar museum kita agar bisa menjadi standar internasional. Saya juga baru menyelesaikan syuting sebagai juri untuk reality show “The Apartment Indonesia” yang akan ditayangkan segera.

 

Bagaimana awal ketertarikan Anda pada dunia arsitektur?

Saya ingat dari kelas 5 SD sudah ingin menjadi arsitek. Waktu kecil saat akhir pekan, ayah saya sering mengajak kami sekeluarga berkeliling kota naik mobil, entah itu ke Pasar Baru atau melintasi daerah Menteng dan Kebayoran. Setiap melihat rumah tua, hati saya sering berdebar dan merasa ada panggilan jiwa. Saya merasa itu adalah hal yang saya suka. Kemarin ini, ada teman SD saya menunjukkan foto perpisahan saat kami lulus SD dan di buku tahunan SD saya sudah menulis cita-cita saya sebagai “Insinyur Pembangunan”, haha. Saat hendak kuliah, sempat ada kebimbangan memilih antara Arsitektur atau Teknik Sipil, namun karena saya juga punya ketertarikan pada seni yang kuat, saya pun memilih Arsitektur.

 

Adakah arsitektur terkenal yang menjadi panutan Anda?

Saya dari dulu sampai sekarang sangat mengagumi Le Corbusier. Dia arsitek Swiss tapi lebih lama tinggal di Prancis yang banyak sekali mendesain bangunan indah tak hanya di Prancis tapi juga di seluruh dunia. Menurut saya Le Corbusier bisa mengubah kehidupan baru dan mottonya beliau yang saya suka adalah “promenade architecturale” atau “perjalanan dalam arsitektur”, bahwa setiap langkah yang kita lakukan di arsitektur, kita harus mendapat sebuah pengalaman baru. Itulah yang menjadi pola dasar saya dalam mendesain sampai sekarang. Saya juga sangat mengapresiasi Zara Hadid, bukan hanya dari segi desain tapi juga semangat dan idealismenya.

 

Apa yang menjadi karakteristik utama dari karya-karya arsitektur Anda?

“Terang-benderang”, itu ciri khas saya. Saya kuliah di Austria di mana musim dingin bisa mencapai minus 30 derajat dan matahari hanya muncul beberapa jam, saat kembali ke Indonesia, matahari bersinar sepanjang tahun tapi lucunya orang kita justru menghindari matahari. Selain natural lighting, sirkulasi udara juga sangat penting. Belakangan ini karya saya juga cenderung terlihat futuristik, tapi tetap dikemas dengan filosofi lokal. Saya sering dikritik kenapa karya saya tidak ada unsur Indonesianya, tapi saya bilang unsur Indonesia itu bukan dari bentuk atau elemen yang terlihat, tapi dari jiwa ruangan itu. Di buku yang saya tulis, Soul of Space, saya menulis suatu ruang itu harus mempunyai soul yang indah. Kalau jiwanya indah, diberikan gaya apapun akan indah. It’s like a human being, kalau hati kita baik, pakai baju apapun kita akan tetap bersinar.

 

Sejauh ini pencapaian apa saja yang paling dibanggakan?

Saya sangat bersyukur setiap hari atas apa yang telah saya capai, tapi saya merasa perjalanan saya masih panjang dan masih jauh. Masih banyak yang belum saya lakukan, tapi yang membuat saya bahagia adalah jika orang bisa mengapresiasi karya saya dengan hati. Misalnya ada klien yang sudah tinggal cukup lama di rumah yang saya desain dan setiap hari dia bisa bangun dengan perasaan happy dan nyaman di rumahnya, itu bagi saya adalah value yang lebih tinggi dari hal lainnya.

 

Apa arti seorang arsitek menurut Anda pribadi?

Bagi saya, seorang arsitek memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar, terutama dalam mengubah kehidupan suatu generasi. Karena arsitek seharusnya tak hanya membangun rumah atau gedung, tapi juga membangun perkotaan dan masyarakat di dalamnya. Jadi kalau kita melakukan perencanaan yang buruk, kota itu akan jadi buruk, masyarakatnya juga jadi buruk. Misalnya saja kalau kita lihat kehidupan masyarakat Denmark yang hampir 60% orangnya bersepeda, quality of life mereka tinggi karena perencanaan kotanya juga benar.

 

Apa yang Anda harapkan dari tata kota Jakarta?

Saya termasuk orang yang suka membuat ruang publik karena buat  saya orang Jakarta butuh ruang publik lebih banyak untuk berinteraksi dan rekreasi. Salah satu yang kita lakukan untuk Museum Seni Rupa dan Keramik adalah membuka area tamannya sebagai ruang publik, tujuannya adalah agar karya seni yang ada di museum tersebut tak hanya bisa dinikmati di dalam gedung, tapi juga dibawa ke luar. Saya ingin memberikan akses kepada mereka yang selama ini belum mendapat kesempatan untuk menikmati seni.

 

Di mana ruang publik yang menjadi favorit Anda di Jakarta?

Saya sangat suka Taman Fatahillah walaupun banyak sekali orang di sana, beberapa teman saya kaget kalau saya ajak ke sana karena ramai sekali, tapi menurut saya tempat yang ramai itu berarti tempat yang sukses karena public spaces is for the public, mungkin memang harus ditata lagi tapi antusiasmenya sudah sangat baik. Kalau ada kesempatan saya suka ke sana, karena saya memang menyukai jalan-jalan di area kota tua di mana pun itu.

 

Apa yang menjadi impian Anda berikutnya?

Sebagai arsitek, saya bisa dibilang sudah go international sejak beberapa tahun lalu. Saya ingin menularkan semangat tersebut ke arsitek-arsitek muda kita. Saya ingin arsitek Indonesia tidak hanya jago di kandang, tapi juga dikenal di dunia dan Indonesia bisa menjadi source of creativity. Kita tahu kalau India kuat dengan bidang IT, Cina kekuatannya di produksi, Jerman kuat dengan teknologinya, kenapa Indonesia tidak bisa dikenal sebagai sumber kreativitas? Itu yang saya harapkan. Saya ingin orang di seluruh dunia jika ingin mencari bakat kreatif, mereka yang datang ke Indonesia.

 

 

 

 


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 − seven =