Fashionable Lungsin

Kain Indonesia begitu indah dalam keberagaman. Melalui visi Aulia, berubah konsep menjadi aksesoris berkelas.

Jika ditilik 10 tahun yang lalu, rasanya masih jarang sekali orang Indonesia yang mengenal kain-kain khas Indonesia selain batik. Batik sendiri mulai muncul sebagai kain yang hip setelah ditetapkan sebagai Warisan Tak Benda Unesco. Perlahan, kain khas Indonesia satu persatu mulai banyak digali dan diperkenalkan ke masyarakat umum.

Desainer-desainer Indonesia juga banyak memakai kain tradisional dalam rancangannya. Bahkan label-label kelas dunia seperti Dries Van Noten dan Gucci memakai ikat, batik, atau songket dalam rancangannya. Salah satu desainer Indonesia yang juga menggali kain-kain nasional adalah Aulia Rusnita Rusdi. Namun, berbeda dengan desainer lain yang memilih pakaian sebagai medium kreatifnya, perempuan kelahiran 20 Februari ini memilih memakai medium tas yang ia beri nama Lungsin.

Sejarah keluarga

Lungsin yang mempunyai arti benang tenun yang disusun sejajar ini didirikan pada tahun 2012. Ada dua faktor besar yang membuat perempuan yang biasa disapa Lia ini mendirikan Lungsin. Faktor pertama karena pengaruh budaya yang ia terima dan juga sejarah keluarga. Sang kakek dan pamannya merupakan perajin batik ternama dari Pekalongan. Sementara ibunya merupakan wanita yang gemar mengoleksi berbagai kain tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia. Tumbuh melihat kesenian dan kain-kain ini, Lia menyimpan kekaguman tersendiri terhadap motif-motif rumit kain. Kekaguman ini semakin menjadi ketika sang ibu terlibat di organisasi Cita Tenun Indonesia.

“Dulu, kain khas Indonesia yang saya kenal hanya batik atau karena saya berasal dari Sumatera, songket. Ketika di Cita Tenun Indonesia, saya melihat jenis lain kain asli Indonesia seperti ulos, sarung dari timor, dan lainnya.”

Faktor yang kedua adalah kecintaannya terhadap belanja. Perempuan yang tumbuh di London ini senang sekali berbelanja khususnya aksesoris dan barang-barang sale. Menurutnya, barang berkualitas tidak harus mahal. Sayangnya, ketika ia kembali ke Indonesia, barang-barang yang tersedia dibanderol dengan harga yang tinggi dengan jahitan yang kurang rapi. Perlahan ia mulai memberanikan memproduksi sendiri barang yang ia mau.

Tas yang pertama kali tercipta adalah tas traveling untuk menyimpan bra dan tas-tas kecil untuk pesta. Siapa sangka, tas ini menangkap banyak perhatian. Dari situ, ia mulai menerima pesanan tas. Awalnya, perempuan dua anak ini banyak memakai warna-warna gelap dalam rancangannya. Namun, lambat laun karena permintaan banyak pelanggan, ia mulai memasukkan warna-warna lain dalam rancangannya. Ia juga sempat memproduksi trunk dan buku-buku yang dilapisi kain-kain cantik ini. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk focus memproduksi tas-tas saja.

Fashionable Lungsin selengkapnya dapat disimak dalam Baccarat Indonesia edisi 17.


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + two =