Green Architecture

Mengusung konsep 3E (ekologi, ekonomi, dan edukasi), Indonesia Berkebun mempunyai cita-cita menjadikan lahan yang terbengkalai menjadi lebih hijau, bersih, sehat nyaman.

Dunia arsitektur merupakan penggabungan dari banyak cabang ilmu. Arsitektur bisa dianggap seni atau juga bisa dianggap sebagai bagian dari ilmu teknik. Semua ini tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Namun, salah satu yang sering terlewat dari arsitektur adalah perannya sebagai arena perubahan. Arsitek sendiri sering dianggap sebagai visioner atau agent of change.

Sigit Kusumawijaya melihat arsitektur sebagai suatu jalan hidup. Meski pun terlahir di keluarga yang tidak mempunyai latar belakang arsitek, Sigit sedari kecil percaya bahwa ia akan menjadi arsitek. Profesi yang tidak hanya mengenalkan dirinya pada seni tetapi juga pada lingkungan, peran komunitas, dan pentingnya untuk menyeimbangkan seni, fungsi, dan lingkungan.

Sigit berhasil memperoleh beberapa penghargaan dan juga publikasi serta menjadi pembicara di beberapa seminar atau konferensi yang ia ikuti dari skala nasional hingga internasional. Salah satu penghargaan individu yang ia dapatkan yaitu menjadi finalis Satu Indonesia Award 2011: “Pemuda Inspirasi“, yang diprakarsai oleh Astra Indonesia.

Ketika mengambil pendidikan di Belanda,

Sigit merasa kehilangan network yang sempat dibangunnya sebelum melanjutkan kuliah. Keinginannya untuk kembali berorganisasi dan perhatiannya pada tata kota, membuat Sigit mencoba mengumpulkan sebuah network baru dengan menerima ajakan bergabung bersama Ridwan Kamil yang sekarang menjabat sebagai Walikota Bandung untuk membuat sebuah gerakan urban farming. Berawal dari kicauan di sosial media, akhirnya terbentuk gerakan yang sekarang bernama Indonesia Berkebun.

Indonesia Berkebun berawal dari gerakan di Jakarta dengan nama Jakarta Berkebun.Seiring dengan berkembangnya jaringan ini, nama Indonesia Berkebun dipilih sebagai payung besar. Sampai saat ini ada 45 jejaring Indonesia Berkebun di seluruh Indonesia yang memanfaatkan lahan rusak atau nganggur di area perkotaan untuk dijadikan lahan pertanian kota yang produktif dan mempunyai nilai dan kualitas yang tinggi untuk ditinggali oleh generasi penerus, dan memiliki kemandirian pangan.

 


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 5 =