INSPIRING WOMAN : TITIN AGUSTINA

Hampir dua tahun lebih Titin Agustina melebarkan sayap butik Kraviti miliknya ke ranah pasar yang jarang dilirik, yaitu lembaga pemasyarakatan (lapas). Selain berkesempatan membantu warga binaan, Tina berencana mengembangkan pelatihan kreatif kain perca untuk membantu kaum marjinal di daerah setempat.

Awal mula Kraviti dibentuk?
Di tahun 2007, batik mulai ramai disosialisasikan dan baju batik mulai marak diproduksi. Saya melihat banyak kain perca dari proses penjahitan pakaian tersebut yang terbuang, saya terdorong untuk memanfaatkannya menjadi suatu produk yang bernilai sekaligus ikut menyosialisasikan kain batik ke mata dunia dengan tampilan yang berbeda. Di tahun 2009, saya merintis butik batik dari kain perca yang terinspirasi dari usaha serupa di Yogyakarta namun menampilkan desain dan segmen yang berbeda pula. Untuk penamaan butik, Kraviti terinspirasi dari kata ‘crafty’ yang berarti terampil.

Kata ini menggambarkan karakter produk kami yang mengangkat sebuah teknik merangkai potongan-potongan kain atau lebih dikenal sebagai kerajinan patchwork dan quilting.

Mengapa memilih Lapas sebagai target tempat pelatihan?

Awalnya, produk-produk Kraviti (seperti selimut, sarung bantal, taplak meja) dibuat oleh komunitas di sekitar tempat tinggal saya. Selain sebagai pelatihan kreativitas mereka, kegiatan ini bisa dijadikan pemasukan tambahan untuk para wanita. Baru di awal tahun 2012, kami merambah membuat pelatihan di Lapas Wanita Sukamiskin Bandung. Saya ingin membantu memberikan solusi dari permasalahan sosial yang kompleks, salah satunya membekali warga binaan pemasyarakatan dengan keterampilan yang dapat digunakan ketika kembali ke masyarakat.

Tantangan terberat yang pernah dijalani di Kraviti?

Tantangan terberat adalah di saat pergantian warga binaan pemasyarakatan karena masa hukuman mereka sudah berakhir. Jadi, kami harus melakukan pelatihan kembali dengan orang-orang baru, serta pemasaran dari hasil karya mereka. Selain itu, birokrasi dari lembaga terkait juga merupakan tantangan lain dari kegiatan ini.

Bagaimana dengan proses kreatif produk Kraviti?

Untuk menjalankan proses kreatif produk, saya dibantu oleh Yufie Kartaatmaja, mahasiswi beasiswa unggulan magister desain FSRD ITB, sebagai desainer sekaligus partner dalam tim Kraviti. Tantangan tersendiri bagi tim desain untuk melakukan eksplorasi dan kesesuaian antara desain, material yang tersedia (kain perca), juga kemampuan SDM. Dan untuk mempermudah proses produksi, maka para komunitas warga binaan pemasyarakatan diarahkan untuk menjahit sesuai dengan desain.

Boleh diceritakan, proses penjualan, promosi dan pembagian hasil penjualan kepada warga binaan pemasyarakatan?

Proses penjualan dan promosi produk Kraviti melalui pameran-pameran baik di dalam maupun di luar negeri, melalui online (media sosial, situs, dan online store), konsinyasi dengan beberapa toko (Alun Alun Indonesia di Grand Indonesia, dan Pendopo Alam Sutera di BSD & SMESCO). Peminat produk kami juga sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat. Untuk warga binaan pemasyarakatan sendiri, kita langsung membayar setiap hasil karya selesai dibuat sesuai standar Kraviti. Dalam artian kami tidak menunggu produk terjual, sebagai bentuk kerja keras dan penyemangat mereka.


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × two =