Inspiring Women :Tulola Jewelry

Kreativitas Dewa Sri Luce Rusna dan Happy Salma tak pernah lepas menyuarakan budaya, seni, kehidupan masyarakat, dan alam Indonesia. Kesamaan tujuan dalam berkarya menyatukan kedua seniwati yang berdomisili di Pulau Dewata ini bekerja sama dalam kreasi perhiasan tradisional Indonesia,Tulola Jewelry. Inspirasi desain label perhiasan yang berdiri sejak tahun 2007 ini.
Ketika ditanya apa yang membuat Sri, sapaan akrab Dewa Sri Luce Rusna, jatuh cinta kepada kebudayaan Indonesia, putri Desak Nyoman Suarti, penari Bali/ kolektor perhiasan antik/seniman perak, ini mengaku rasa cintanya kepada Indonesia merupakan bagian dari identitas diri. Sebagai satu-satunya desainer perhiasan di Tulola Jewelry, Sri selalu terinspirasi dari berbagai keindahan daerah di Indonesia, cerita para sesepuh dan literatur budaya, atau warisan karya seni Indonesia, terutama Bali. Wanita berdarah Amerika-Indonesia ini bertekad menumbuhkan kecintaan kreasi perhiasan tradisional Indonesia.

Lalu sentuhan apa yang dibawa Happy Salma untuk Tulola Jewelry? Di dunia seni peran dan sastra, sosok Happy Salma sudah lama dikenal berkarakter dan matang. Berbeda ketika kita bicara sosoknya dalam ranah desain dan kreasi perhiasan Indonesia, Happy termasuk pemain baru dengan intuisi seni yang tajam. Berawal dari kejelian Happy menyimak keelokan perhiasan Tulola Jewelry, kecintaan mengenakan aksesori bernilai tradisi sejarah Indonesia, dan gelora cinta tanah air yang tak pernah padam di hatinya, turut memberikan dinamika seru dalam kerjasama ini. Ia memilih terjun ke dalam konsep kreatif, dan ikut mempromosikan dari setiap koleksi Tulola Jewelry. Momentum kerja sama kedua seniwati ini lahir di pameran koleksi Tulola Jewelry bertajuk Juwita Malam di art space Dia. Lo. Gue, Kemang di tahun 2011.

“Kami berdua mempunyai frekuensi yang sama dalam konsep dan ide kreatif. Kecocokan lainnya, Sri andal menerjemahkan ide kami berdua ke dalam bentuk perhiasan yang indah dan kaya nilai histori Indonesia. Kami pun saling menghargai peran masing-masing di Tulola Jewelry. Saya lebih ke konsep kreatif, ide di balik setiap koleksi, dan cerita di balik setiap koleksi yang akan dikeluarkan. Sementara, Sri lebih ke ranah menuangkan ide ke dalam desain produk, produksi, dan pertukangan,” urai istri Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa yang tak lama lagi akan menjadi seorang ibu ini.

Untuk setiap detail pengerjaan koleksi perhiasan Tulola Jewelry, Sri fokus dan intens terlibat di dalamnya. “Berawal dari desain sketsa, kemudian diberikan kepada para pengrajin untuk menciptakan detail yang sempurna. Studio kami yang berada di Ketewel, Bali, dibantu 10 pengrajin kreasi emas dan 50 pengrajin kreasi dengan perak dari Bali dan Jawa. Untuk mendapatkan hasil perhiasan yang sempurna, kami tidak pernah menetapkan target waktu pengerjaan. Biasanya, memakan waktu 2-20 hari tergantung pada kerumitan desain. Saya meyakini dan menerapkan kepada para pengrajin untuk memusatkan waktu dan energi mereka kepada pekerjaan agar memperoleh hasil yang sempurna. Kami pun mempertahankan teknik dan alat-alat pembuatan perhiasan tradisional. Para pengrajin kami lebih nyaman berkreasi dengan alat tersebut dan terbukti menghasilkan koleksi yang sesuai dengan konsep,” ungkap wanita yang menjadikan nama panggilan putri pertamanya, Putu Lola, menjadi nama label perhiasannya.

Dalam berkreativitas, kedua seniwati ini pantang berpuas diri. Pencapaian terbesar bagi mereka berdua, ketika semua wanita tampil cantik dan berkarakter mengenakan Tulola Jewelry. Kedua seniwati ini juga tidak terburu-buru untuk segera membuka cabang lain dari Tulola Jewelry. Untuk saat ini, dengan penuh harap, mereka bertekad ingin memberikan desain yang lebih kreatif. Dan, jika suatu saat membuka cabang Tulola Jewelry, tidak akan bertempat di Indonesia. Bagi mereka berdua, Bali adalah rumahnya Tulola Jewelry.

Baca artikel sejenis di majalah Baccarat indonesia


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*