Inspiring Women :Valencia Mieke Randa

Ternyata, menghidupkan asa via media sosial bukanlah hal yang mustahil. @JustSilly, nickname Valencia Mieke Randa di media sosial, mengisahkan cerita di balik kegiatan sosial gagasannya yang berhasil menghidupkan asa bagi yang membutuhkan.

Apa yang membuat Anda tergerak untuk memolopori komunitas sosial di media sosial?

Yang menggerakkan saya membentuk komunitas sosial ini adalah panggilan hati. Saya sudah merasakan nikmatnya berbagi, nikmatnya merasakan hidup ketika kehadiran kita berharga buat orang lain.

Saya adalah pekerja online media sosial, hampir separuh hidup saya habiskan di online media sosial, entah itu mencari informasi yang dibutuhkan, menyalurkan ide-ide kreatif, dan bertegur sapa dengan teman yang terpisah jarak dan waktu. Tentu saja, saya tetap beraktivitas di dunia nyata karena dunia online baru akan benar- benar nyata manfaatnya ketika digabung dengan tindakan nyata.

Dan, media sosial merupakan media informasi yang sangat powerful. Dunia tanpa batas! Siapa pun boleh ambil bagian dalam mengekspresikan imajinasi dan kreasi masing-masing. Keleluasaan ini memudahkan satu komunitas atau lembaga nirlaba/sosial untuk menyebarkan pesan sosial ke masyarakat luas untuk bergerak bersama.

Inspirasi dan waktu terbentuknya komunitas sosial @Blood4LifeID, @ 3_little_Angels, @BFLAct, @LittleStep_BFL?

Blood4LifeID lahir 19 Maret 2009 melalui blog dan mailing list. Komunitas ini diperuntukkan sebagai jembatan antara pendonor darah dengan orang yang membutuhkan darah. Lewat media sosial, kami menyebarkan informasi mengenai kebutuhan donor darah yang mendesak, yang tidak terpenuhi karena stok di PMI kosong, atau darah langka. Berawal dari 44 orang, sekarang sudah sekitar 65.000 standby donor di seluruh Indonesia. Secara bergiliran dan suka rela, mereka berjaga setiap harinya di twitter, untuk merespons panggilan kebutuhan darah di tengah malam.

Lalu 3_Little_Angels terbentuk 11 Desember 2012, sewaktu kami mengadakan acara Christmas Magic For Kids di bangsal anak RSCM bersama sekitar 60 relawan yang kemudian bergabung dalam komunitas ini untuk bantu anak-anak yang sakit.

Bagi orang yang suka turun ke jalan, saya buat BFLAct yang terbentuk pada bulan Agustus 2012, aksi cepat tanggap di kala bencana. Dan, bagi yang memiliki banyak barang tak terpakai di rumah, saya ajak menyumbang dan bergabung di LittleStep yang terbentuk pada bulan November 2012. Pengumpulan barang-barang yang tidak terpakai tetapi masih layak ini akan disumbangkan ke anak-anak jalanan dan panti asuhan yang tidak terkenal.

Saya ingin menciptakan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk semua orang berbuat dan merasakan nikmatnya berbagi dengan orang lain, feel good by doing good things!

Bagaimana cara Anda mengumpulkan bantuan untuk masing-masing gerakan sosial?

Kebanyakan kami mengumpulkan donasi via medial sosial. Tetapi khusus untuk 3Little_Angles karena dana yang dibutuhkan anak-anak sakit jumlahnya besar, selain mengumpulkan dana via media sosial, kami juga sering membuat kegiatan lain, misal garage sale, jualan merchandise di Car Free Day, konser mal, dan masih banyak lagi.

Tantangan terbesar yang pernah dihadapi masing-masing gerakan sosial?

Setiap gerakan sosial punya tantangan yang berbeda-beda. Untuk Blood4LifeID, kami butuh waktu verifikasi terlebih dahulu sebelum mempublikasikan kriterianya kepada publik. Tantangan lain ketika mencari donor darah langka seperti AB, jumlahnya hanya 7% dari total seluruh peduduk Indonesia. Untuk satu orang anak thalassemia saja, itu butuh 4 kantong dari 4 orang pendonor, belum lagi untuk penderita leukemia atau anemia aplasti, setidaknya butuh 10-15 kantong dari 10-15 calon pendonor. Jika situasi ini terjadi dua minggu sebelum atau lebaran, kita benar-benar khawatir dan kewalahan.

Untuk 3_little_Angels, tantangan yang kami hadapi ketika membantu pengurusan surat-surat kelengkapan BPJS si pasien. Kegiatan ini benar-benar butuh waktu dan kesabaran karena harus mengurus ke kampung si pasien, ke kantor BPJS, lalu balik lagi ke Rumah Sakit (RS), sementara kondisi lalu lintas Jakarta macet dan pasien harus ditindak segera. Adakalanya pula ketika kami infokan bahwa pasien ini menggunakan BPJS, beberapa RS langsung menyatakan kamar ICU tidak tersedia, padahal ketika dihubungi lewat telepon diinfokan kamar ICU tersedia.

Kegiatan di BFLact sendiri belum menghadapi tantangan yang besar karena ketika terjadi bencana, kami berkoordinasi dengan tim lain agar bantuan yang diberikan maksimal dan sesuai kebutuhan.

Untuk LittleStep, kadang kami terkendala dengan tempat penampungan, drop point, pengantaran, distribusi, dan ongkos kirim yang lebih mahal dari barangnya. Alhamdulillah, sekarang kami sudah punya Rumah Singgah yang bisa dijadikan tempat penampungan dan lantai 2-nya digunakan untuk menampung anak-anak sakit dari keluarga kurang mampu yang datang dari daerah dan belum dapat tempat di RS karena kapasitas terbatas.

 

Silakan baca artikel sejenis lainnya di majalah Baccarat Indonesia


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three + ten =