Let the Body Talks

Dalam ekshibisi kolektif pertamanya yang bertajuk “I too am Untranslatable”, RUCI Art Space menghadirkan wacana tentang tubuh lewat karya empat seniman lintas kota. 

 

Dikuratori oleh Roy Voragen, RUCI Art Space mempersembahkan pameran kolektif pertamanya yang menampilkan karya dari empat seniman yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta dengan interpretasi dan pendekatan artistik masing-masing pada konsep yang menyoal tubuh sebagai benang merahnya. “I too am untranslatable” mengekspos perjalanan keempat seniman yang terlibat dalam mengeksplorasi batasan dan kebebasan tubuh yang dibangun dari pemahaman personal maupun nilai-nilai eksterior yang menginfluensnya. Keempat seniman yang terlibat kali ini adalah Deden Hendan Durahman (fotografi), Jabbar Muhammad (lukisan), Kelvin Atmadibrata (performance art) & Theresia Agustina Sitompul (instalasi).

Deden Hendan Durahman, seniman Bandung kelahiran Majalaya yang menempuh pendidikan seni di ITB dan Jerman, menampilkan dua seri terbaru dengan tajuk Peerless dan Peers di mana keduanya mengangkat kecemasan soal sisi narsistik dalam era media sosial. Peerless menampilkan fotografi para individual yang dibelah sedemikian rupa sehingga menyerupai barcode, sementara Peers adalah foto beberapa tubuh yang menjadi kesatuan komposisi sculptural di mana nilai individu seseorang seolah melebur kehilangan makna di tautan tubuh orang lain.

Untuk ekshibisi ini, seniman muda Bandung yang sedang naik daun, Jabbar Muhammad melanjutkan seri Eve yang telah menjadi fokus berkaryanya sejak 2015. Bermain dengan teknik melukis dan tekstur kertas, Jabbar mengangkat tema identitas dan interaksi manusia yang diwakili oleh ilustrasi beberapa wanita dengan transisi dua wajah yang menjadi satu untuk menggambarkan pergelutan dengan alam bawah sadar masing-masing dan konsep dualitas yang diusung oleh Carl Jung.

Di lain sisi, seniman yang berbasis di Jakarta, Kelvin Atmadibrata menampilkan performing art berjudul Benched yang merupakan kombinasi dari instalasi berukuran besar, kolase kertas, dan fotografi untuk menarasikan cerita personal tentang masa remajanya di mana Kelvin menampilkan model yang merepresentasikan dan dijadikan bahan renungan tambatan hati masa remajanya, teman sekelasnya sekaligus atlet polo air, yang di kemudian hari memilih menjadi tukang roti. Selayaknya atlet yang hanya menunggu di kursi cadangan, Kelvin menggambarkan kasih tak sampainya dan kesempatan yang terlewat begitu saja. Karya ini sendiri adalah on-going project di mana hasil akhirnya baru benar-benar terlihat saat pameran ini usai nantinya.

Theresia Agustina Sitompul sebagai satu-satunya seniman perempuan yang berpartisipasi di pameran kali ini menampilkan dua seri karya bertajuk Decrease Increase dan Moment. Moment menampilkan instalasi silikon dan baja bersiluet payudara wanita dari masa kecil, remaja, dewasa, hingga uzur untuk merayakan waktu dan perubahan biologis yang dibawanya dalam perubahan anatomi seorang wanita yang tak lepas dari nilai-nilai kecantikan yang ada di masyarakat. Sementara di Decrease Increase, seniman asal Jogja ini bermain dengan teknik carbon tracing dalam tiga potongan karya berupa gaun wanita dengan bagian terpisah yang masing-masing mewakili peran Theresia sebagai seorang seniman, ibu, pengajar, maupun sebagai dirinya sendiri tanpa embel-embel profesi apapun dan tantangannya sebagai seorang wanita yang dituntut membagi waktu untuk peran-peran tersebut.

 

Ekshibisi “I too am Untranslatable” akan dibuka untuk publik dari tanggal 14 Juli 2017 dari jam 7 sampai jam 11 malam dan akan terbuka setiap harinya dari jam 11 pagi – 7 malam sampai tanggal 13 Agustus 2017.

 


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

8 + eight =