Linda Christanty : Aceh dan Definisi Merdeka

Ada sebuah tempat yang istimewa di benak saya, meskipun saya tidak lagi tinggal di sana, yaitu aceh. Kopinya enak, para lelakinya tampan, pantainya indah, dan sejarahnya menunjukkan hasrat manusia yang tak pernah padam terhadap kemerdekaan. Kata “merdeka” tak lagi bermakna tunggal di negeri itu dan bahkan, memberi kita definisi dan tafsir yang berbeda dari waktu ke waktu.

Delapan bulan setelah pemerintah indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, pada 15 agustus 2005, saya pergi ke desa Treuseb di kabupaten Pidie, Aceh. Perdamaian itu mengakhiri perjuangan bersenjata GAM selama hampir 30 tahun untuk memerdekakan Aceh dari Indonesia. Saya mendengar kabar bahwa pada 10 april 2006 perayaan maulid nabi dilaksanakan secara besar-besaran di kampung itu. Selain orang-orang kampung, bekas anggota GAM dari berbagai wilayah di Aceh dan para pendukungnya, teman-teman dan sanak saudara Hasan Tiro akan hadir dalam kenduri untuk memperingati hari lahir nabi muhammad di masa damai tersebut. Jumlah tamu diperkirakan 10 ribuan orang. saya ingin menikmati suasana maulid nabi di Aceh dan terutama, ingin mencicipi makanan khasnya yang lezat.

Dari Banda Aceh ke Treuseb sekitar tiga jam naik mobil. Meski perdamaian sudah terjadi, tetapi situasi belum sepenuhnya tenang waktu itu. Aceh masih dalam kondisi pascakonflik atau transisi demokrasi, yang berarti masalah apa pun berpotensi menyulut konflik baru ketika tidak ditangani dengan tepat dan segera. Ibarat orang yang baru pulih dari sakit tipus, sepiring salad atau lalapan mentah yang disantap akan segera membuatnya kumat.
Di beranda belakang rumah Tengku Mustafa dan istrinya, Juraiza, para perempuan duduk di tikar sambil menyantap kari sapi dan nasi bukulah, nasi yang dibungkus daun pisang. Mustafa adalah keponakan Hasan Tiro, pendiri dan proklamator GAM. Berbeda dengan pamannya, Mustafa seorang guru mengaji dan tak berminat pada politik. sebelum sampai di beranda ini, saya melihat sebagian lelaki, tua-muda, berdiri dan bercakap-cakap di halaman muka. tawa dan tatapan haru mewarnai hari itu.

Saya kemudian mewawancarai sejumlah perempuan, menanyakan pendapat mereka tentang perdamaian. salah seorang dari mereka adalah Rasidah, istri kepala desa. jawaban belum terucap, tapi air matanya sudah mengalir. Ia terisak-isak cukup lama. Setelah itu ia berkata, “saya ingin merdeka.” Orang- orang yang ada di sekeliling kami terhenyak mendengar jawabannya dan mereka menatap saya dengan cemas,menunggu reaksi tamu satu-satunya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang pemerintahnya dulu berperang dengan GAM. Tetapi pemerintah Indonesia dan GAM sudah berdamai. Aceh tidak jadi merdeka.

Rasidah bisa dianggap hendak menyulut perlawanan baru dari Bumi Serambi Mekkah kalau ucapannya dalam forum resmi. Tak berapa lama ia menjelaskan bahwa ia ingin pengalaman di masa konflik tidak lagi terulang dan tentara Indonesia tidak semena-mena seperti dulu. Saudaranya ditangkap dan tidak pernah kembali. Kemerdekaan baginya adalah bebas dari ancaman dan rasa takut. Kemerdekaan bagi Hasan Tiro dan pendukungnya waktu itu adalah hasil penjualan minyak dan gas tidak hanya menggemukkan saku dan simpanan uang di bank para elite kekuasaan di pulau jawa, melainkan untuk menyejahterakan rakyat di Aceh. Namun, sebagian pejuang GAM yang kini menguasai pemerintahan Aceh tak melaksanakan cita-cita mulia itu. jangankan kemakmuran, kekerasan yang mengatasnamakan agama bahkan terjadi di Aceh hari ini. terbersit di benak saya untuk mencari Rasidah dan bertanya lagi kepadanya tentang arti kemerdekaan.

Minggu lalu saya berkunjung ke Banda Aceh dan bertemu teman- teman lama. Tak semua menyampaikan kabar gembira. ada juga cerita sedih. Gilang dari Komisi untuk orang Hilang dan Korban tindak Kekerasan merasa perjuangannya dan teman-temannya sia-sia. setelah pemerintah Aceh mensahkan undang-undang di tingkat daerah untuk pembentukan Komisi Kebenaran dan rekonsiliasi untuk memberi keadilan kepada para korban konflik di Aceh, pemerintah pusat di Jakarta melalui menteri dalam negeri menolak mengesahkannya dalam sebuah undang-undang yang bersifat nasional. artinya, kasus kasus kekerasan di masa lalu tak bisa diusut tuntas. menurut Gilang, lebih dari 400-an perempuan korban pemerkosaan oleh aparat negara di masa darurat militer telah memberi testimoni. Kesaksian mereka juga menjadi tak berarti. Teman lain menyatakan kekhawatirannya terhadap meningkatnya angka kematian ibu saat melahirkan akibat menikah muda. pekerja di bidang kesehatan mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS di Aceh mencapai lebih dari 600-an kasus dalam setahun terakhir, sehingga menjadikan Aceh sebagai provinsi nomor dua di indonesia setelah Papua yang rawan penyakit dan virus ini. Hal tersebut menandakan sama sekali tidak ada korelasi antara penerapan hukum agama yang dianggap sebagai penjaga moral dengan perilaku manusia sehari-hari. Hukum agama belum terbukti mampu mengatasi kasus-kasus penyakit menular. Solusinya ada pada ilmu kedokteran dan pendidikan tentang kesehatan.

Bagaimana dengan kabar gembira? Ida, dosen di sebuah universitas, mencoba memotivasi para ibu agar mendidik anak-anak mereka sejak dini tentang kesetaraan gender: anak laki-laki dan perempuan harus sama-sama maju dan saling membantu. Ia berbicara dalam majelis-majelis taklim para ibu. namun, rintangan tetap ada ketika pemuka agama di gampong (kampung) menganggap kata ‘gender’ yang tak ia pahami artinya dan juga tak ingin diketahuinya, bersinonim dengan kata ‘dosa’.

Gilang, Ida dan para perempuan ini adalah orang-orang yang saya kenal sejak hampir 10 tahun lalu. mereka tidak pernah mundur. ternyata di Aceh, kemerdekaan warga dari berbagai masalahnya tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan bersenjata, melainkan pada upaya-upaya individu dan komunitas yang peduli dan bergerak.

Linda Christianty

131001055856_linda_christanty_144x81_bbc_nocredit

Peraih Khatulistiwa Award 2013 ini kerap berpartisipasi sebagai pembicara konferensi sastra nasional maupun internasional, di antaranya,
World Forum di Tokyo, Jepang, Winternachten- Writers Unlimited di Rabat,Maroko, Asia Literary Festival di Guwahati,India dan George Town Literary.


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*