LOLA AMARIA

Sebagai pekerja seni, Lola terlibat dalam berbagai proyek film yang tidak biasa. Tidak biasa bukan selalu berarti berbau kontroversi, tidak biasa disini lebih kepada keberanian untuk mengungkap cerita dan fenomena masyarakat yang mungkin sulit dituturkan tanpa jalur seni. Contoh saja film-film seperti “Novel tanpa huruf R” dan “Betina”, walaupun keduanya ditopang oleh cerita cinta, namun ‘twist’ yang tidak biasa bahkan menyentuh batas kenyamanan penonton umum di Indonesia. Sehingga filmini banyak di apresiasi di ajang festival. Salah satunya mendapat penghargaan dalam ajang Jogya-Netpac Asian Film Festival untuk film Betina.

Aktris, sutradara dan produser sudah ia selami dan menjadi seorang story teller yang sesungguhnya. Melalui visinya Lola mampu menyampaikan sebuah isu yang dibungkus dalam sebuah film kepada masyakarat. Salah satunya adalah cerita “Minggu Pagi di Victoria Park,” dimana ia ikut berperan dan menjadi seorang sutradara. “ Awal saya tertarik mengambil cerita ini adalah, pada saat isu TKW sangat genjar, terlebih saat ada pemberitaan bahwa TKW Indonesia kehidupan di luar negeri sulit dan ada isu-isu negatif seperti penyiksaan. Namun saya juga melihat tidak semua TKW Indonesia sulit hidupnya, salah satunya yang bekerja di Hongkong, kok saat itu saya melihat standar hidup baik, dan bahkan bisa dibilang sukses dengan gaya mereka yang modis, gaji yang bagus, dan memiliki hari libur. Lalu saya tertarik untuk mengangkat sisi TKW ini, disitulah saya melakukan penilitian.” Film “Minggu Pagi di Victoria Park” dibuat sangat tepat dan mengolah isu yang sangat sensitif menjadi sebuah pemahaman baru di masyarakat, keberhasilan Lola sebagai sutradara yang cermat menangkap isu menjadi sebuah karya yang akhirnya membawanya menjadi Best Director di Jakarta International Film Festival.

Asam garam yang ia lalui di industri kini menjadi modal utamanya untuk membuat production house sendiri. Secara bisnis ia pun sudah memperhitungkan dengan cermat untuk membuat bisnis ini terencana. Kesibukan membangun bisnis kini menjadi fokus Lola. Dan saat ia memiliki waktu luang untuk relaksasi maka ia memilih untuk eksplor lautan Indonesia dengan diving. “ Berada di bawah lautan yang sepi hanya ditemani oleh-oleh ikan-ikan seperti terapi, saya belajar untuk menghargai kehidupan dibawah laut agar saya bisa menghargai kehidupan di atas laut.”

Menyelami kehidupan baik di atas dan di dasar laut, membuat Lola Amaria yang terlahir pada tanggal 30 Juli ini semakin bijak untuk bersikap. Dan titik saat ini, ia mengakui ia melihat hidup dengan cara menjalani, tanpa paksaan dan target berlebihan namun tetap memiliki rencana ke depan.

“Menjadi wanita Indonesia modern saat ini, yang terpenting adalah kita memiliki sikap.Sikap untuk menentukan yang terbaik buat diri kita. Dengan semakin cepat dan terbukanya dunia, semakin banyak pilihan yang disodorkan dan segala sesuatu bias terjadi secara instant. Alangkah baiknya kita bisa cermat bersikap sehingga tidak sekedar terbawa oleh arus. Saya juga tidak bias menjadi suara bagi setiap wanita di Indonesia, karena setiap orang memilik tahapan berbeda-beda, namun dengan menggali potensi yang ada, bisa menjadikan diri kita lebih utuh dan kuat.”


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 4 =