Marcellinus Jerry Winata – A Greater Good

Membagikan pengalamannya dalam kerja humanitarian sebagai kontribusi kepada tanah air, Marcellinus Jerry Winata, sosok dibalik Bawah Anambas Foundation (BAF) yang bergerak dalam kegiatan konservasi laut, hutan dan pemberdayaan masyarakat di kawasan Anambas pada propinsi Kepulauan Riau ini turut membuka mata kami akan keindahan negeri Indonesia, kekuatan kerjasama, pendidikan, kegigihan dalam berusaha dan kepemimpinan yang berbuah kemenangan.

 

Foto Dok. Pribadi

 

Apa peran utama Bawah Anambas Foundation (BAF) dan apa saja kegiatan yang sudah dilakukan hingga saat ini?

BAF bergerak dengan 3 pilar dibalik tagline “Above, Below and Beyond”. Above artinya bekerja untuk masalah kelestarian hutan, Below adalah program konservasi laut, seperti menciptakan coral tree nursery, reef health monitoring di sekitar pulau Bawah dan di luar itu, melakukan konservasi penyu. Untuk Beyond ada beberapa kegiatan, seperti memberikan pelatihan sebagai perbekalan dan pemberian mata pencaharian alternatif bagi nelayan yang terkena dampak over fishing untuk mempelajari ilmu organic farming dari para fasilitator dan pelatih yang hidup bersama mereka selama setahun penuh. Diluar itu kita juga akan membeli 100% hasil pertanian dari desa sekitar untuk kemudian digunakan di restoran Bawah Resort untuk dinikmati para tamu. Untuk pendidikan, ada Digital English Club untuk mengajarkan bahasa Inggris sebagai pelajaran tambahan bagi anak-anak sekolah secara online, berupa video call kepada guru di Jakarta dan Filipina. Serta program utama kita, yaitu management sampah untuk mengurangi sampah plastik masuk ke laut dengan bekerjasama dengan seluruh penduduk desa untuk mulai mengumpulkan, memilih, dan mengolah semua sampah menjadi produk yang bisa digunakan kembali.

 

Apa hal yang paling krusial dalam hal pendekatan masyarakat di Anambas?

Yang harus diingat dan paling penting adalah tidak menelantarkan dan menomorduakan kehidupan masyarakat sekitar. Karena kebanyakan dari mereka, melakukan hal yang tidak ramah lingkungan karena dua penyebab utama, karena tidak paham dan tuntutan ekonomi. We can’t talk about conservation to a hungry man atau berbicara kepada ibu-ibu yang khawatir akan pendidikan anaknya. We can’t just forget about their day-to-day life for the sake of conservation. Untuk itu seluruh kerja konservasi yang kita lakukan harus mendahulukan masyarakat.

 

Bisa diceritakan awal dibentuknya Bawah Anambas Foundation, serta hubungannya dengan Bawah Reserve?

Pada awalnya Bawah Reserve dibangun sebagai eco-sustainable resort yang berada di Kepulauan Anambas, dimana saya diminta para pemiliknya untuk memberikan advice mengenai apa yang harus diperbuat untuk melindungi lingkungan dan membantu masyarakat sekitar. Dari situ saya berjalan mengelilingi Anambas dan hidup bersama para warga selama 2 bulan untuk memahami seperti apa tantangan kehidupan sehari-hari dan apa yang mereka butuhkan. Setelah selesai, saya memberikan masukan pada para pemilik resort untuk menciptakan Bawah Anambas Foundation sebagai sebuah yayasan independen di Indonesia, dimana Bawah Reserve berlaku sebagai donor utama, dan kedepannya tentu bisa bekerja sama dengan perusahaan lain.

 

Apa respon masyarakat Anambas akan kegiatan yang direncanakan oleh Bawah Anambas Foundation?

Cukup membanggakan karena kita bekerjasama baik dengan masyarakat, dan benar-benar menginvestasikan banyak waktu untuk pendekatan masyarakat sebelum program dimulai. Kita berkonsultasi dengan masyarakat dan hanya mau melakukan program jika ada keterlibatan masyarakat. Kita tidak memberikan bantuan 100% begitu saja, melainkan melalui timbal balik dan upaya swadaya masyarakat. Seperti pada program organic farming, kita sampaikan sejak awal bahwa kita tidak akan membeli atau menyewa lahan, melainkan masyarakat berkesediaan mengalokasikan lahan mereka sendiri dan kita membantu dalam hal sarana, prasarana dan pembangunan infrastruktur. Dengan pendekatan ini, selalu ada keeratan kerjasama, terutama karena rasa memiliki masyarakat terhadap program ini.

 

Berkaca dari kondisi di kawasan Anambas, kasus apa yang paling membutuhkan perhatian khusus?

Masalah terbesarnya adalah isu over fishing yang sebenarnya bukan diakibatkan penduduk desa. Karena wilayah Anambas adalah bagian dari laut cina selatan, banyak sekali kapal penangkap ikan skala besar yang membuat masyarakat sulit bersaing dan tidak lagi bisa mendapat ikan besar dan berimbas keterpaksaan melakukan praktik bernelayan yang tidak berkelanjutan, contohnya dynamite fishing, menggunakan potassium yang merusak terumbu karang, Selain itu isu yang juga dialami global, yaitu sampah plastik laut, dimana sangat disayangkan Indonesia adalah penyumbang sampah plastik di laut terbanyak ke-2 di dunia.

 

Apa saja hal-hal yang bisa menginspirasi Anda saat melakukan aktivitas?

Beruntung berkesempatan mengunjungi sekitar Anambas dan berinteraksi langsung dengan penduduk desa. Setiap kunjungan menghadirkan inspirasi, baik dari single mothers yang bekerja keras bagi anaknya, nelayan yang bekerja keras melaut namun tidak patah semangat untuk belajar pertanian organic, ada juga petugas-petugas yang selalu saya sebut sebagai trash heroes, atau pahlawan sampah yang berdedikasi membersihkan desanya. Semua memotivasi dan menginspirasi saya dan team BAF untuk memastikan seluruh program yang kita canangkan berjalan baik.

 

Sempat bergabung bersama World Bank dan United Nation, pengalaman apa yang paling bermanfaat dan menginspirasi Anda untuk terus berkarya?

Di World Bank saya tergabung dalam team komunikasi-external affairs, untuk di UN World Food Program, sebagai kepala komunikasi dan Private Sector Engagement berkolaborasi dengan pihak swasta. Pengalamannya sangat luar biasa dan benar-benar membuka mata saya bagaimana kita bisa melakukan kerja humanitarian secara profesional dan terstruktur. Saya diberi kesempatan untuk bekerja bersama masyarakat di seluruh Indonesia, dan dibalik keindahan dan berita luar biasa dari negara kita, masih banyak kerja yang kita perlukan untuk memastikan saudara-saudara kita di Indonesia tidak ada yang tertinggal.

 

Apa hal yang ingin dieksplorasi lebih dalam setelah berkegiatan bersama Bawah Anambas Foundation?

Makna dibalik being a true leader, bukan hanya sekadar a manager. Disini saya betul-betul diperlukan untuk menjadi leader, bukan hanya untuk team di BAF, namun juga menjadi leader untuk masyarakat desa dimana kita bekerja. I am nowhere near being successful in that part, perjalanan saya untuk belajar menjadi pemimpin yang baik jauh dari sempurna. Itu salah satu hal yang benar-benar ingin saya dalami lebih jauh lagi, how to be a good leader, to be able to serve my team and the community.

 

What’s next for you and Bawah Anambas Foundation?

Saya sangat bangga dengan apa yang sudah team saya capai di BAF, bukan berarti kita sudah bekerja sempurna, namun pendekatan, kinerja dan kerjasama yang telah kita terapkan bersama di masyarakat dan pemerintah daerah, itu yang saya banggakan. Selain itu, saya ingin memperluas scope hingga ke luar Anambas, ke seluruh Indonesia bahkan luar Indonesia dengan pembelajaran yang sudah kita dapatkan di Anambas. Sesekali Indonesia menjadi percontohan program-program pemberdayaan masyarakat dan konservasi laut sebagai studi banding bagi negara lain.

 

 

 

 


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one + 17 =