Orange is the New White

Semua yang perlu Anda ketahui tentang minuman wine yang paling digemari tahun ini.

Bicara soal wine, tentu Anda sudah familiar dengan varian red dan white wine, ataupun rosé wine dengan rasa dan warna yang cantik. Namun, bagaimana dengan orange wine? Dengan warna kekuningan cantik yang mengingatkan Anda pada mentari musim panas, varian wine ini sedang menjadi buah bibir para penikmat wine serta menjadi minuman paling dicari di restoran-restoran berkelas di New York City dan Kanada yang berlomba memasukkan orange wine ke dalam daftar menu minuman mereka. Nama orange wine mungkin masih terdengar asing di telinga Anda, namun menurut penulis Andrea Frost yang menulis buku Through a Sparkling Glass, walaupun varian ini baru menjadi sesuatu yang hip belakangan ini, teknik pembuatannya sendiri termasuk teknik pembuatan wine yang sudah berumur ribuan tahun. Agar Anda tidak tertinggal, mari kita berkenalan lebih lanjut tentang orange wine yang juga kerap disebut dengan nama amber wine ini.

 

Jadi, apakah wine ini terbuat dari jeruk?

Jawabannya adalah tidak. Orange wine tetap terbuat dari anggur sebagai bahan utamanya. Secara sederhana, orange wine adalah white wine yang cara pembuatannya memakai teknik pembuatan red wine dengan cara memfermentasikan saripati dari kulit anggur. White wine memiliki warna jernih karena dalam proses pembuatannya tidak dilakukan kontak dengan kulit anggur, sementara orange wine dibuat dari daging anggur putih (Pinot Gris atau Rkatsiteli, misalnya) yang lantas direndam bersama kulit anggur (yang rentang warnanya bisa beragam dari mulai putih sampai ungu) selama beberapa hari, minggu, atau bulan. Lamanya proses fermentasi menentukan warna oranye yang dihasilkan, yang rentangnya mulai dari warna pale gold hingga deep bronze. Selain warna, proses ini juga meningkatkan kadar tannin (substansi dalam wine yang menyebabkan pengeratan, seperti rasa kering di dalam mulut Anda. Zat ini diekstrak dari kulit, biji, dan batang anggur, jadi red wine akan mengandung lebih banyak tannin daripada white wine), sehingga jika disajikan dalam suhu ruangan yang sejuk, orange wine memiliki kematangan rasa yang jarang dimiliki oleh white wine.

 

 

Bagaimana dengan cita rasanya?

Walaupun secara visual, orange wine terlihat sama cantiknya dengan rosé atau sparkling wine, namun jangan bayangkan jika rasanya akan seringan rosé.  Menghipnotis, lezat, dan kompleks adalah tiga kata yang sering dipakai untuk menggambarkan rasa orange wine. Karena rasanya yang unik, orange wine memiliki pro dan kontranya sendiri. Sebagian orang akan langsung menyukainya sejak pertama kali mencicipi, sementara bagi sebagian orang yang belum terbiasa akan menyebut rasanya “aneh”. Sama halnya seperti red dan white wine, kuncinya adalah menemukan selera Anda di antara banyaknya varian yang bisa dipilih. Hanya karena Anda tidak menyukai minuman pertama yang Anda coba, bukan berarti jenis lainnya tidak patut dicicipi. Secara umum, rasa yang akan Anda dapatkan adalah rasa tannin yang pekat dari proses fermentasi kulit anggur dan aroma manis yang mengingatkan pada kacang, buah kering, hingga madu. Penandanya adalah, semakin pekat warnanya, semakin pekat juga kandungan tannin dan rasanya.

 

Apakah orange wine cocok diminum sambil bersantap?

Jika rosé wine bisa disebut alternatif menyegarkan dari red wine, orange wine adalah kebalikannya. Karena kadar tannin dan keasaman natural yang cukup tinggi, orange wine dapat menggantikan peran red wine dalam mendampingi makanan berat seperti daging merah, keju, menu yang kaya lemak dan mentega, hingga makanan bercitarasa spicy. Yang harus dihindari adalah meminum orange wine berkandungan tannin yang tinggi dengan menu ikan dengan kadar minyak tinggi seperti salmon, sardines, atau mackerel. Jika ingin menikmati orange wine tanpa makanan, disarankan memilih orange wine dengan kandungan tannin yang rendah sebagai pemicu selera atau sparkling orange wines.

 

Dari mana saja orange wine berasal?

Orange wine sangat umum ditemui di Georgia, dan mudah ditemukan di Italia bagian timur, Slovenia, Kroasia dan kini menyusul popularitasnya, orange wine juga sudah diproduksi di Spanyol dan Afrika Selatan. Varietas anggur yang paling cocok dibuat orange wine adalah varietas dengan aroma manis seperti pinot gris dan muscat. Untuk harganya sendiri, orange wine masih termasuk kategori di atas rata-rata karena produksi yang masih terbatas dan belum umum dijumpai di supermarket, sehingga cara paling aman untuk membelinya adalah mendatangi wine bar terbaik di kota Anda.

 

5 pilihan orange wines untuk dicoba:

 

Costadila 280slm

Wine asal Valdobbiadene ini adalah orange prosecco (white wine Italia) yang dibuat secara natural menggunakan tiga varian anggur prosecco (Glera, Verdiso, Bianchetta Trevigiana) dan ditambahkan anggur kering setelah fermentasi pertama untuk mendapatkan gula alami dan tanpa tambahan sulphite. Dengan paduan rasa buah, thyme kering, dan ragi yang menyegarkan, minuman bubbly ini bisa menjadi perkenalan yang manis untuk orange wine.

Pheasant’s Tears Rkatsiteli

Wine asal Georgia dengan warna amber ini dimatangkan dalam wadah tanah liat yang dikubur dalam tanah untuk mendapatkan aroma smokey dan rasa yang mengingatkan pada buah leci.

Fog Monster Chenin Blanc

Dinamakan dari kabut daerah Pasifik yang menyelimuti perbukitan Sierra Foothill tempat anggur ini ditanam, wine ini menggunakan teknik maserasi karbonat untuk menghasilkan warna oranye dengan rasa persik putih, aprikot, dan rempah yang kental.

 

Gravner Anfora Ribolla Gialla

Dibuat dari anggur Ribolla yang difermentasikan bersama kulitnya selama setahun lalu disimpan di tong kayu selama setahun lagi sebelum akhirnya dibotolkan, wine ini memiliki paduan rasa aprikot, madu, cigar wrapper, rempah hangat, serta salinitas yang memberi efek velvety dalam mulut sehingga layak dinikmati sebagai pendamping makanan berat.

Sepp Muster Erde

Dikemas dalam botol terracotta yang akan membuat setiap kepala menoleh saat Anda memesannya, wine dengan cita rasa apel, melati, herb, jahe, dan citrus ini dibuat dari 80% Sauvignon dan 20% Chardonnay yang difermentasikan selama 6 bulan dalam tong kayu ek, sebelum dimatangkan lebih lanjut dalam botol terracotta yang siap dijual.

 


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × three =