Sean Monteiro : Indonesian cinema now and tomorrow

Tumbuh besar di Jakarta adalah bagian paling krusial dari perjalanan sinematik saya di mana entertainment sangat terbatas sehingga pergi ke bioskop menjadi
kesukaan saya saat itu. Dan pada masa itu juga hanya film-film Hollywood yang berjaya di bioskop.

Tahun 2014 tentu saja berbeda. Tahun ini, kita melihat kebangkitan generasi baru pembuat film Tanah Air yang memiliki ide-ide dan cerita-cerita segar untuk dibagikan, terlepas dari semua aturan yang mengekang di masa konservatif. Di pertengahan 2014 saja terdapat 19 film drama, 12 horor, dan 7 komedi yang diproduksi secara lokal.

Film drama adalah jenis yang mudah dijual ke produser. Umumnya ide film jenis ini diambil dari novel laris yang sudah melekat di benak penonton dan menantikan versi filmnya. Tahun ini pun menjadi kebangkitan film komedi,
“Comic 8” dan “Marmut Merah Jambu” mampu menarik penonton dalam jumlah besar ke bioskop. Jelas bahwa penonton tidak pergi ke bioskop untuk dijejali pelajaran, mereka pergi karena ingin dihibur.

Menurut saya, tinggal di negara dunia ketiga sudah cukup berat, membuat orang ingin menonton hal-hal yang bisa dinikmati. Tapi tentu saja film bisa dibuat
dengan bobot hiburan dan edukasi sekaligus. Itulah yang terbaik. Jika Anda punya film lucu, orang akan tertawa tapi tidak belajar apa-apa. Jika Anda memiliki pesan yang menarik dan mengomunikasikannya dengan baik, hal itu akan tertanam dalam di benak mereka.

Pembuat film lainnya terinspirasi oleh kuatnya pengaruh Islam di negeri ini. Jenis film reliji ini dihindari di Hollywood, namun tidak di sini. Film drama relijius sangat terkenal dan karena Indonesia adalah negera muslim terbesar di
dunia, hal itu mudah dimengerti. Contoh dari film- film terkenal berjenis reliji termasuk “Hijrah Cinta” dan “99 Cahaya di Langit Eropa Bagian 2”.

Film- film berjenis relijius memang menuai kesuksesan di Tanah Air, hal ini menunjukkan bahwa agama memainkan peran penting dalam kehidupan orang Indonesia. Hanung Bramantyo adalah pionir genre ini, dimulai tahun 2008 dengan
“Ayat-ayat Cinta”.

***

Tahun ini menandai pertama kalinya dibuat film tentang Indonesia, “The Act of Killing”, yang dinominasikan di ajang Academy Award untuk Best Documentary. Walaupun sutradaranya berasal dari Denmark, salah satu asisten sutradaranya adalah orang Indonesia. Sayang sekali talentanya tidak akan dikenal karena
namanya tidak tercantum di dalam kredit film.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pembuat film lokal sudah memiliki kebebasan daripada sebelumnya, masih ada ketakutan politis. Dalam hal ini orang asing memiliki keistimewaan karena mereka bisa keluar dari negeri ini tanpa khawatir
akan keselamatan diri sendiri.

Sekuel dokumenter ini berjudul “The Look of Silence”, yang menggali bagaimana rasanya menjadi orang yang selamat dari pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965. Film ini akan dirilis akhir tahun ini. Pembuat film asing tertarik akan Indonesia karena sejarahnya yang kontroversial, kebudayaannya yang kaya, dan
kondisi alamnya yang berbeda-beda.

Michael Mann, yang menyutradarai film-film favorit saya, seperti “Heat” dan “Collateral”, memutuskan untuk melakukan syuting film terbarunya yang berjenis cyber thriller, “Blackhat”, di Jakarta awal tahun ini. Menurutnya, Jakarta penuh dengan energi dan warna, semuanya bertabrakan dengan
rusuh.

***
Jika Anda melihat industri Tanah Air ini dari sudut pandang internasional, raihan-raihan ini menunjukkan bahwa Indonesia terus memainkan peran yang lebih besar di peta sinema global.

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja keras untuk menarik produksi asing ke negeri ini. Ada banyak keuntungan untuk hal ini karena menyediakan lapangan kerja bagi bintang dan kru lokal, memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.

Namun demikian mengimpor produksi besar berskala internasional hanya bersifat satu arah, kita juga harus fokus bagaimana mengekspor produk kita ke luar negeri. Para produser harus berpikir secara global untuk pendistribusian. Rilis besar-besaran film “The Raid 2” yang dilakukan secara internasional tahun ini membuktikan bahwa jika kualitasnya tinggi, penonton tak akan segan menonton film Indonesia dengan terjemahan bahasa Inggris.

Indonesia telah tumbuh menjadi bangsa yang mengimpor lebih banyak dari mengekspor. Kita harus mengubah ketidakseimbangan ini sehingga terjadi yang namanya perdagangan kreatif seimbang. Hal inilah yang akan memperkenalkan
kebudayaan Indonesia ke dunia luar

Sean Monteiro

BACCARAT INDONESIA 06.pdf - Adobe Reader

Sutradara dan produser film drama-komedi Indonesia “Make Money” yang dirilis November 2013, pendiri Bamboom Productions yang membuat profil perusahaan dan
iklan, dan direktur di perusahaan fotografi dan videografi pernikahan The Leonardi

Baca artikel sejenis di majalah Baccarat Indonesia


Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seventeen − seven =