Syagini Ratna Wulan: Connecting The Dots

Syagini Ratna Wulan kian memantapkan namanya di kancah seni. Terhitung sudah banyak pameran atau eksebisi seni dalam dan luar negeri yang ia ikuti. Di tahun ini, Art Stage Singapore, Art Stage Jakarta, Bazaar Art Jakarta dan pameran tunggalnya “Spectral Fiction” bersama dengan ROH Project sukses ia gelar dan tentu saja karyanya tidak terhenti sampai di situ.

Background pendidikan Anda?

S1 di Fakultas Seni Rupa dan Design ITB serta S2 di Goldsmiths College, University of London

Bagaimana Anda mengartikan sebuah seni?

Seni bagi saya merupakan cara termudah untuk memecahkan sebuah masalah di kehidupan ini. Walaupun bagi sebagian orang beranggapan bahwa seni itu terlalu rumit

Apa yang harus diutamakan dalam membuat sebuah karya?

Selain konsep, korelasi pun juga dibutuhkan. Setiap artist dalam membuat suatu karya seni antara yang satu dengan yang lainnya harus memiliki hubungan satu sama lainnya. Jadi saling terkait. Di dalam seni itu tidak ada istilah suka karena bagus saja, tetapi harus memiliki hubungan dengan karya-karya seni sebelumnya, urgensinya buat si artist itu apa, konsepnya apa? Pokoknya semuanya harus menjadi sesuatu yang koheren. Karena itu yang di garis bawahi dari karakter berkaryanya.

Ciri khas atau karakter dari setiap karya Anda?

Sejak dulu karya saya banyak memakai metode yang berulang, misalnya seperti Bibliotea dengan 10 jenis rasa tehnya dan 50 judul buku, Catharsis dengan ribuan piringnya, 100 Years of Tempest dengan 100 loker kabinetnya lalu pameran terakhir menggunakan susunan kanvas dengan berbagai macam sekuens.

Inspirasi Anda dalam berkarya?

Perkembangan manusia sebagai manusia. Karya-karya saya konsepnya adalah human relation dan self reflection.

Apa yang ingin Anda sampaikan melalui karya-karya Anda?

Dalam berkarya saya selalu menyampaikan satu hal yang sama, bahwa di dunia ini tidak ada yang pasti, yang ada hanyalah perubahan.

Artist yang menginspirasi Anda? James Turrell, he’s a modern artist. Olafur Eliasson for 21st century artist. Dia adalah salah satu artist yang saya inginkan untuk berkolaborasi, but he’s like a god, hahaha…

Ceritakan mengenai SRW?

Selain itu inisial nama saya, SRW juga menjadi nama brand authentic leather saya. Sebenarnya itu suatu kebetulan yang jadi blessing sampai sekarang. Dulu, Ayah saya punya industri kulit untuk membuat golf bag, lama kelamaan saya tertantang untuk membuat sesuatu, yaitu tas dan jaket. Awalnya iseng-iseng, lama kelamaan ada satu keharusan untuk membuat ini jadi lebih bagus lagi. Koleksi yang saya buat pun konsisten, tidak banyak model yang macam-macam, ya walaupun ada yang baru juga tapi masih tetap raw. Karena saya ingin menjadikan SRW ini sesuatu yang basic.

Bagaimana Anda menginterpretasikan cahaya dan warna ke dalam sebuah karya seni?

Ada banyak teori dan beberapa karya dari artist mengenai warna, mulai dari Goethe, Newton, Elsworth Kelly hingga James Turrell. Banyak penelitian tak terhitung mengenai warna dan cahaya yang dieksplorasi melalui ilmu pengetahuan, agama, sosiologi, antropologi dan psikologi seni. Namun, perjalanan interpretasi cahaya dan warna ini belum mencapai batas akhir. Saya percaya bahwa ini hanya sebagian kecil saja dari pemahaman logika kita, sisanya masih menjadi misteri alam semesta.

Apakah Anda memberikan sentuhan feminin pada setiap karya Anda?

Saya tidak pernah bermaksud untuk memberikan sentuhan feminin pada karya saya. Mungkin karena warna itu tersirat dan membentuk pemahaman atau opini yang berbeda-beda. Seperti warna “terang/neon” identik dengan kuning dan pink, lalu warna “pastel” sebagai warna feminin dan warna gelap identik dengan warna elegan atau dikaitkan dengan horor dan seterusnya. Itu hanya penamaan saja dan pemaknaan kata dalam bahasa.

Next exhibition?

Januari 2017 akan ada group show di Singapura dan duet show bersama Faisal Habibi dengan ROH Projects di Art Fair Filipina pada bulan Februari 2017.


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*