Talita Setyadi – A Perfect Harmony

Sempat mengenyam dan menekuni musik jazz semasa berkuliah di New Zealand, Talita Setyadi menemukan medium lain untuk mengekspresikan dirinya dengan cara menjadi seorang pastry chef dan entrepreneur. Memadukan kreativitas artistik dengan komitmen dan idealisme menjalankan bisnis, wanita kelahiran Jakarta 23 Januari 1989 ini sukses mendirikan BEAU by Talita Setyadi, sebuah artisan bakery dengan French Pastry sebagai fokus utama yang kian mengakrabkan kosakata “boulangerie” dan “pâtisserie” dalam leksikon kehidupan urban saat ini. Foto: Willie William.

 

Dengan latar belakang pendidikan musik, apa yang mendorong Anda untuk beralih ke dunia kuliner dan memilih pastry?

Saya belajar musik di universitas dengan niat menjadi musisi jazz professional. Saya dulu senang bikin kue untuk dibagi ke teman-teman band saat latihan dan rasanya menyenangkan melihat orang tersenyum menikmati kue yang saya buat. Saya pun menyadari, dibanding musik jazz yang butuh level of exposure dan appreciation untuk bisa dinikmati, kue yang lezat jauh lebih bisa dinikmati oleh semua orang. Saya akhirnya beralih ke pastry karena saya percaya saya bisa merengkuh dan memengaruhi lebih banyak orang lewat makanan. Saat kembali ke Indonesia di tahun 2013 setelah selesai sekolah kuliner di Paris, saya melihat tidak banyak inovasi, excitement, dan kebanggaan di ranah ini. Saya jadi tertantang membawa sudut pandang kreatif dan ekspresif ke industri ini dan menunjukkan ke orang, kalau sama seperti musik, pastry juga sebuah bentuk dari seni dan ekspresi diri. Saya memilih pastry dibanding seni kuliner lainnya karena saya merasa bisa lebih berekspresi secara artistik lewat pastry. Sekarang, bisa dibilang seni pastry telah menggantikan double bass sebagai instrumen saya untuk berkomunikasi dan berekspresi.

 

Selama sekolah kuliner di Le Cordon Bleu Paris, apa hal utama yang paling Anda tangkap?

Apa yang saya tangkap dari mempelajari French pastry adalah komitmen mereka dalam memakai bahan yang alami dan segar. Kalau di Indonesia adalah hal yang lumrah untuk memakai perasa dan pewarna makanan dibanding memakai bahan alami. Jadi di BEAU, kalau kami membuat kue pandan misalnya, kami akan mengekstrak pandan kami sendiri memakai juice extractor dibanding membeli sari pandan yang mengandung perasa dan pewarna makanan. Untuk menciptakan warna dalam produk kami, saya selalu memakai fruit puree asli. Kami juga telah mengeksplor cara mendehidrasi puree buah dan sayur untuk dijadikan bubuk yang kami pakai untuk memberi rasa dan mendekorasi kue kami.

 

Apa prinsip utama yang Anda usung dalam menjalankan bisnis ini?

Di BEAU, tagline kami adalah “Taste, Texture, Form”. “Taste” merujuk pada bahan-bahan yang kami pakai, karena kita tentu tidak bisa membuat makanan lezat tanpa produk yang berkualitas. Hal itu juga berarti sensibilitas dalam mengolah bahan tersebut dengan cara yang tepat untuk menciptakan keseimbangan rasa yang menarik. “Texture” berhubungan dengan teknik karena hanya dengan educated approach kita bisa mendapatkan komposisi tekstur yang benar. Sementara “Form” merujuk pada sisi “seni” dan pendekatan kreatif. Bagaimana setiap elemen tersebut dipresentasikan dari mulai bahan berkualitas sampai semua ide dan konsep yang akhirnya menjadi kesatuan produk yang kohesif.

 

Bisnis bakery sendiri bisa dibilang sangat berkembang di Indonesia saat ini, we got so many options for bakery, entah itu dari lokal maupun franchise internasional, apa signature dari BEAU yang membedakannya dari yang lain dan bagaimana Anda menyikapi persaingan pasar?

Saya percaya kalau bisnis tidak selau harus menjadi zero-sum game. Saya membangun BEAU untuk mengeksplor proses kreatif tak hanya di produk pastry tapi juga dalam menjalankan perusahaan dan membangun brand yang sustainable. Dari awal, saya ingin BEAU punya pendekatan “product-centric” di mana fokus utama adalah produk itu sendiri dan membiarkan produk yang berbicara. Itu artinya kami menaruh perhatian besar dalam proses produksinya dan stay authentic pada integritas setiap produk yang kami hasilkan. Untuk tetap authentic, kami menghindari “jalan pintas” seperti dough improvers, pengawet, atau pewarna buatan bagi produk kami. Saya sengaja meletakkan nama saya di brand ini untuk menyampaikan jika usaha ini dan produk yang ditawarkan memang unik dan representasi sesungguhnya dari points of view saya pribadi. Saya ingin punya usaha yang bisa membuat saya bangga menempelkan nama saya sebagai personal guarantee dan signature.

 

Apakah Anda memang berasal dari keluarga entrepreneur? Kalau iya, apa saran terbaik yang pernah Anda dapat dari keluarga tentang entrepreneurship?

Ya, saya datang dari keluarga entrepreneur. Mendiang nenek saya pemilik bakery Lestari di Jalan Bumijo, Yogyakarta. Ayah saya juga seorang pengusaha di beberapa bidang. Beliau adalah inspirasi terbesar dan mentor saya. Saat ayah melihat saya tegang dan stressed out sebelum pembukaan gerai pertama, ia bilang ke saya, “Pekerjaan kalau dikerjakan terus tidak akan ada selesainya.” Maksudnya adalah the more you work, the more the tasks will just keep coming, sampai akhirnya kita stuck di lingkaran setan. Dia berpesan jika kita tak seharusnya merasa bersalah untuk bilang “cukup” dan istirahat sejenak, untuk bernapas dan melihat the bigger picture. Sebagai pemilik usaha, tekanannya bisa sangat demanding, salah satu hal yang terpenting adalah menyediakan waktu untuk keluarga, hobi, dan kesehatan diri. Ketika kita memiliki waktu untuk diri sendiri dan melakukan apa yang kita suka, kita justru bisa lebih stay authentic and true in your work; yang hasilnya bisa mengantar kita ke produktivitas dalam jangka panjang.

 

Jadi, apa yang Anda lakukan di waktu luang untuk recharge yourself?

Di waktu senggang, saya akan menyempatkan diri untuk bermeditasi, yoga, dan Muay Thai. Saya juga bermain electric bass untuk sebuah band punk yang saya bentuk bersama beberapa teman! Sekadar membaca buku atau pergi makan ke luar pun saya suka. I also like to travel any chance I get!

 

Apa yang menjadi harapan dan target Anda selanjutnya baik untuk BEAU maupun industri bakery di Indonesia secara umum?

Saya ingin meningkatkan standar dari baked goods di Indonesia. Tujuan saya adalah mengembangkan industri ini and to lead by example. Banyak perusahaan di sini yang hanya fokus membuat produk mass-market yang murah, masih jarang yang menghargai konsumen dan mengedukasi mereka untuk bisa membedakan produk yang berkualitas dan yang tidak. Saya merasa hal itu sebagai status quo karena masih belum banyak culinary professional yang mengedepankan kualitas dan teknik yang proper. Karena itu, salah satu target saya juga adalah membangun sebuah industry-accredited culinary school di Jakarta yang bisa menjadi pilihan higher education untuk anak sekolah. Saya ingin mengedukasi market agar bisa menilai dan memilih produk konsumsi yang tepat untuk kesehatan mereka sendiri.


You May Like This

Leave a Reply

Or

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12 − 11 =